Home

Ketika saya membaca kasus yang dialami oleh Wilson “Idol” yang diberitakan bahwa Wilson “Idol” melakukan pelecehan terhadap seorang gadis. Sempat berpikir “ah masa sih, seorang idol melakukan itu” tetapi setelah membaca pernyataan pengacara wilson, ‎Andi Mulya Siregar membuat saya semakin prihatin akan cara berpikir zaman sekarang.

Diberitakan bahwa “Wilson memang baru sebulan mengenal AG. Keduanya dekat setelah beberapa kali AG curhat pada Wilson. …Dalam perjalanan menuju Ancol itu, Wilson dan AG sempat beberapa kali berciuman. Hingga akhirnya Wilson dan AG sepakat masuk ke sebuah hotel di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, sekitar pukul 02.00 WIB Detikhot.com ….”Andi memaparkan, kliennya membantah telah memaksa Ag untuk melakukan perbuatan tidak senonoh. Pasalnya, kejadian tersebut dilakukan karena rasa saling suka di antara keduanya. “Ada hubungan laki-laki dan wanita. Mereka berciuman dan ada hubungan istimewa dan melakukan tidak ada paksaan. Kedua-duanya sadar, check in sadar,” papar Andi panjang lebar..” Kompas.com

Saya disini tidak membahas Wilson “Idol” tetapi pernyataan-pernyataan Pengacara wilson membuat saya mengambil kesimpulan seakan2 Wilson  melalui pengacaranya menyatakan bahwa “berciuman dan melakukan aktifitas bermesaraan adalah wajar karena mereka sepasang kekasih.”

Dan itu pun seakan-akan yang sedang menjadi tren atau standar dari pergaulan anak2 remaja sekarang, “asal sama-sama suka silakan.”

Padahal kedua pernyataan itu adalah sesat dan menjerumuskan.

Dimana sesatnya kalimat “berciuman dan bermesaraan (secara fisik)  dalam berpacaran disebut wajar?” Itu disebut wajar cuma karena itu dijadikan “budaya” “biasa” tetapi sebenarnya bertentangan dengan perintah Tuhan utk menjaga kekudusan. Semua hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan artinya tidak wajar.Manusia membuat seakan2 wajar utk menutupi rasa bersalahnya atau untuk mencari-cari alasan utk membenarkan perbuatannya. Semua yang wajar belum tentu benar tetapi semua yg benar sudah seharusnya wajar.

Setiap kali orang (yg berpacaran) berciuman apa lagi bermesraan secara fisik dengan kekasihnya pasti juga akan melibatkan perasaan dan pikiran. Bohong kalau setelah berciuman dengan pacarnya (apa lagi cowok) ditanya “lu ngerasa apa?”menjawab “ga ngerasa apa-apa.” Pikiran dan perasaan apa yg muncul? Pikiran dan perasaan menyenangkan, ingin memiliki, ingin menguasai, ingin lebih lagi, ingin memuaskan pasangan dan bahkan diri sendiri melalui sentuhan fisik. Pikiran2  itu seharusnya tidak muncul saat pacaran tetapi nanti jika sudah menikah namun ini malah diselewengkan dengan alasan “wajar” atau “sudah biasa”. Semua yang seharusnya /wajibnya/hukumnya dilakukan didalam ikatan nikah tetapi dillakukan disaat berpacaran adalah perbuatan yang tidak wajar!!

Apa sesatnya dari pernyataan “Kalau suka sama suka boleh dong”? Sepertinya kalimat itu baik tetapi sesungguhnya apa yang baik belum tentu benar. Memang baik ketika hal itu atas persetujuan kedua belah pihak tanpa paksaaan, tetapi masalahnya “bermesraan secara fisik” hanya bisa dilakukan oleh orang yang terikat dalam pernikahan dan dengan pasangan sendiri. Baik memang bahkan benar, jika dilakukan oleh sepasang suami istri. Tetapi tidak baik dan sesat jika kamu-kamu yang belum menikah melakukannya.

“Bermesraan secara fisik” dengan dasar suka sama suka menjadi berkat dan keuntungan jika dilakukan oleh sepasang suami istri. Tetapi menjadi jerat jika dilakukan diluar ikatan nikah.

Banyak pembicara dan penulis tentang Love Sex & Dating yang setuju bahwa ciuman adalah aktifitas yang bisa membawa kamu kepada tingkat aktifitas seksual yang lebih tinggi lagi.

Salah satunya adalah sepasang penulis, sepasang kekasih, suami istri yang pernah komitmen untuk tidak bergandengan tangan ataupun ciuman  yaitu Ratna Yoes dan Eka Chandra di dalam bukunya “Pacaran tanpa ciuman” berpendapat: “Sebenarnya, kami berdua bukannya mau bilang nggak boleh gandengan, nggak boleh kissing. Bukan. Kami hanya mengingatkan kemungkinan-kemungkinan sentuhan lanjutan setelah gandengan tangan atau kissing. Apalagi bagi para cowok yang biasanya kesulitan mengendalikan diri.” (sumber Pacaran tanpa Ciuman, hal 49-50).

Benar berciuman dan bermesraan secara fisik dengan orang disukai itu menyenangkan karena jika tidak mengapa banyak orang melakukannya. Dan setiap hal yang menyenangkan biasanya membuat seseorang menginginkannya lagi dan lagi. Ketika aktifitas berciuman berlanjut ke bermesraan maka telah terjadi yang disebut peningkatan aktifitas seksual.

Salah satu web memberikan ilustrasi peningkatan aktifitas seksual :

Mulai dari Berpegangan tangan >> berpelukan dan ciuman pipi >>ciuman bibir>>ciumandalam>> rabaan>>hubungan badan >>dan berakhir pada PENYESALAN dan RASA BERSALAH jika dilakukan diluar Nikah!!

Namun firman Tuhan bilang  untuk meperlakukan perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adik dengan penuh kemurnian. Dan perempuan2 muda itu termaksud pacar kamu hai pria!🙂 Sebaliknya buat wanita perlakukan si pria sebagai saudaramu. Ditambahin lagi, sikap, pikiran dan perasaannya harus murni. Tanyakan pada diri sendiri mungkinkah saya melakukan hal-hal tersebut terhadap saudara / saudari sendiri?

Sekarang dicek saja, saat berciuman atau bermesraan apakah yg muncul sikap hati / pikiran yg murni dan kudus atau sebaliknya?

Dari berciuman menuju bermesraan secara fisik.  Siapa yang akan menghentikan dorongan ini kalau bukan kamu sendiri dan dimulai sejak awal?

Wanita jangan beri kesempatan dan Pria jangan cari kesempatan!😀

Jangan sampai “Dari Ciuman Ke Kamar tidur” terjadi!!

-yang pernah jatuh namun Bangkit kembali utk Mengingatkan-

-Ps. Gideon Sihombing MA

2 thoughts on “Dari “Ciuman” ke “Check In”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s