Home

mbah_surip

Hari ini seorang musisi telah meninggal, namanya adalah mbah surip. Dia pernah menulis sebuah lagu judulnya “Tak Gendong”. Awalnya denger gak ngerti nih lagu maksudnya apa dan akhirnya  tetp gak ngerti juga . Liriknya tuh kaya gini:

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling
Ha…Ha…
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taxi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana
Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling
Ha.. Ha…
Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Ha.. Ha…
Ha.. Ha…
Ha.. Ha……
Capek…..

Lirik ini kayanya menceritakan seseorang yang punya kekasih pengen terus  nemenin kekasihnya kemana-mana dengan cara di gendong. Gile aje kalo bener ada orang yang kaya gitu,  mau gendong pacarnya kemana-mana. Pastinya kalo gak gila ya tuh orang emang cinta mati sama kekasihnya.

Semalam saya nonton berita di Metro TV dan disitu diceritakan makna lagu itu adalah mengenai “Kebersamaan”. Dimana dalam segala situasi kita bisa menanggungnya bersama-sama. Mengutip catatan metro view “Pertemanan jauh lebih penting dari masalah harta. “Together, kebersamaan,” itulah istilah yang sering diucapkan Mbah Surip. Itulah pula makna yang paling esensial dari lagunya “Tak Gendong”.

JADI Apa Mbah Surip Terinspirasi Yesaya 46 ya? Tampaknya tidak, mbah surip MUNGKIN terinspirasi dari pengalaman hidupnya.

Tapi apa ada ada orang senekat itu atau seberani itu mau gendong kekasihnya atau sahabatnya ? Ya jangankan gendong pacar atau sahabat secara fisik ada gak yg mau gendong nilai sebuah persahabatan itu sendiri, nyari yg mau gendong kejujuran, sukacita dan gendong dukca cita dalam persahabatan aja kayanya susah ya nemuinya dizaman ini!

Eh saya perhatiin kata terakhir dilirknya mbah surip itu “Cape…” nah ini dia, gak cuma mau gendong tapi juga mau gak dia berkomitmen, gak nyerah untuk gendong persahabatan itu. Bayangkan memikul berat badan yang mungkin beratnya lebih dari berat badan kita sendiri itu bisa menguras tenaga kita dan bisa bikin “cape. Orang Digendong biasanya karena orang itu tidak sanggup lagi berjalan atau tidak mau berjalan. Tapi ada juga seorang anak yang memang perlu digendong oleh ayah/ibunya untuk menenangkannya atau melewati suatu area yang sulit dilewati, hingga si anak tidak perlu kuatir ketika melewatinya. Pokoknya kaya kata mbah surip “Enak to, mantep to Ayo.. Mau kemana”.

Jauh sebelum lagu “tak gendong” itu muncul ada satu Pribadi juga yang pernah berjanji dan membuat sebuah “lirik” bahwa Dia akan selalu menggendong kekasihNya dan sahabatNya, yaitu Tuhan yang berjanji dan jajiNya tertulis didalam Alkitab di Kitab Yesaya 46:4 “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Janji ini memberikan kita harapan bahwa dia tidak pernah berubah selalu setia, Dia berani untuk mengendong kita baik dalam masa yang menyenagkan atau pun tidak, Dia mau menggendong kita melampaui waktu usia kita, menanjggung terus tanpa ada rasa lelah atau mau menyerah. Menerima semua keberadaan kita secara utuh baik jiwa, fisik dan roh kita apapun keadaannya dan yang pasti dia akan memulihkan, menguatkan dan memperharui terus hidup kta.

Meski bukan terispirasi dari Yesaya 46, kata gendong didalam lirik lagu tersebut akan menjadi sebuah ilustrasi yang mendekati bahwa Allah akan setia menggendong kita apapun kondisinya. Sebab Allah senang utuk bersama dengan kita dan dia senang untuk menolong hidup kita.

Sebagai penutup blog ini teringat juga sebuah sajak yang menggunakan kata “Gendong”, dan sajak ini ‘semua orang’ pastinya pernah membaca, Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback. Dalam bahasa inggris artinya Footprint dalam B. Indonesia Jejak-jejak kaki.

JEJAK-JEJAK KAKI

Suatu malam aku bermimpi
Aku berjalan di tepi pantai dengan Tuhan
Di bentangan langit gelap tampak kilasan-kilasan adegan hidupku
Di tiap adegan, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir
Satu pasang jejak kakiku, yang lain jejak kaki Tuhan.
Ketika adegan terakhir terlintas di depanku
Aku menengok kembali pada jejak kaki di pasir.
Di situ hanya ada satu pasang jejak.
Aku mengingat kembali bahwa itu adalah bagian yang tersulit

Dan paling menyedihkan dalam hidupku.
Hal ini menganggu perasaanku maka aku bertanya Kepada Tuhan tentang keherananku itu.
“Tuhan, Engkau berkata ketika aku berketetapan mengikut Engkau, Engkau
akan berjalan dan berbicara dengan aku sepanjang jalan,
Namun ternyata pada masa yang paling sulit

Dalam hidupku hanya ada satu pasang jejak.
Aku tidak mengerti mengapa justru pada saat aku sangat membutuhkan Engkau,
Engkau meninggalkan aku?”
Tuhan berbisik, “Anakku yang Kukasihi Aku mencintai kamu dan takkan meninggalkan kamu
Pada saat sulit dan penuh bahaya sekalipun.
Ketika kamu melihat hanya ada satu pasang jejak ,
ltu adalah ketika Aku menggendong kamu.”

Tunangan penulis sajak ini Paul, mengatakan dalam suatu ibadah “Ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita”

Dia mau menggendong kita karena kita perlu kekuatanya untuk melewati gelombang dan badai didalam dunia ini. Tanpa kita meminta Dia pasti menggendong kita, sebab Dia tahu batas kekuatan kita. Maukah kita di Gendong Tuhan?

“Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau”

Yang mau di Gendong Tuhan.

Gideon

nb: Thank You mbah surip buat ilustrasinya yg kocak!

One thought on “Mbah Surip Terinspirasi Yesaya 46?

  1. wow! i never know you have this blog bro!
    bagus banget ngupasnya gid…simple tapi dalem! terus berkarya bro! sangat memberkati….see you soon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s